Isi Artikel Utama

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep al-milkiyyah (kepemilikan) terhadap aset digital Non-Fungible Token (NFT) dalam perspektif Ushul Fiqh. Fokus kajian ini adalah menentukan status hukum kepemilikan serta keabsahan transaksi NFT dalam konteks hukum Islam kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan konseptual, normatif, dan sektoral. Data dikumpulkan melalui studi pustaka terhadap literatur fikih klasik, fatwa ulama kontemporer, serta analisis terhadap karakteristik teknologi blockchain. Data sekunder yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dan komparatif untuk mengkaji kesesuaian NFT dengan kriteria harta (mal) dalam fikih muamalah.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa NFT dapat dikategorikan sebagai harta yang sah secara hukum menurut sebagian ulama kontemporer karena memiliki nilai ekonomi, manfaat yang diakui pasar, dan dapat dimiliki secara eksklusif walaupun tidak berwujud fisik. Namun demikian, keabsahan transaksi NFT bersifat bersyarat. Transaksi dinilai sah apabila objek NFT halal, bebas dari unsur gharar (ketidakjelasan) dan maysir (perjudian), serta menggunakan alat pembayaran yang sesuai prinsip syariah. Penggunaan mata uang kripto yang tidak memenuhi ketentuan syariah dapat membatalkan transaksi.


Dengan demikian, NFT dapat diakui sebagai bentuk kepemilikan modern dalam Islam dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian, perlindungan harta (hifzh al-māl), dan pencegahan kerusakan (mafsadah).


Kata Kunci: Al-milkiyyah; Kepemilikan; NFT; Ushul Fiqh; Fikih Muamalah; Aset Digital

Kata Kunci

Al-milkiyyah;Aset Digital;Fikih Muamalah;Kepemilikan; NFT;Ushul Fiqh.

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Tinjauan Ushul Fiqh tentang Status Kepemilikan Aset Digital Non-Fungible (NFT) dalam Perspektif Al-milkiyyah . (2025). Jurnal Hukum Ekonomi Syariah, 4(2), 161-169. https://doi.org/10.37968/jhesy.v4i2.1737

Cara Mengutip

Tinjauan Ushul Fiqh tentang Status Kepemilikan Aset Digital Non-Fungible (NFT) dalam Perspektif Al-milkiyyah . (2025). Jurnal Hukum Ekonomi Syariah, 4(2), 161-169. https://doi.org/10.37968/jhesy.v4i2.1737

Referensi

  1. AAOIFI. (2020). AAOIFI (Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions). Shari’ah Standards. Manama: AAOIFI.
  2. Abd. Shomad. (2012). Hukum Islam: Penormaan Prinsip Syariah dalam Hukum Indonesia. kencana.
  3. Adiwarman A. Karim. (2007). Ekonomi Mikro Islami. Rajawali Pers.
  4. Al-Jaziri, A. R. M. A. (2003). Al-Fiqh ’ala al-Madzahib al-Arba’ah (Jilid 2). Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah.
  5. Antonio, M. S. (2018). Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik. Gema Insani.
  6. Az-Zuhaili, W. (2009). Tafsir Al-Munir (Jilid 4). Dar al-Fikr.
  7. Blockchain Research Institute. (2023). Blockchain Research Institute, NFTs: The Digital Renaissance,. BRI Publishing.
  8. DSN-MUI. (2021). DSN-MUI (Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia). Fatwa DSN-MUI No. 141/DSN-MUI/IX/2021 tentang Non-Fungible Token. DSN-MUI.
  9. Jasser Auda. (2015). Membumikan Hukum Islam Melalui Maqasid Syariah, Terj. Rosidin dan Ali Abd el-Mun’im,. Mizan.
  10. Karim, A. A. (2007). Ekonomi Mikro Islami. Rajawali Pers.
  11. Sumber: Data diolah penulis,. (2025).
  12. Syaripudin, E. I., & Laili Ahad, T. (2022). Analisis Hukum Islam tentang Akad Endorsement. Jurnal Hukum Ekonomi Syariah (JHESY), 1(1), 82–92. https://doi.org/10.37968/jhesy.v1i1.119
  13. Syaripudin, E. I. M., & Nurul, A. (2022). Mekanisme Transaksi Gadai Perspektif Hukum Ekonomi Syari ’ Ah. Jhesy, 01(01), 1–8. https://journal.stai-musaddadiyah.ac.id/index.php/jhesy/article/download/169/62
  14. Yusuf Qardhawi. (1999). Fiqh al-Zakat, Jilid 1, terj. Didin Hafidhuddin. Pustaka Litera Antarnusa.
  15. Yusuf Qardhawi. (2005). Fiqh al-Zakat, Jilid 1, Terj. Didin Hafidhuddin,. Pustaka Litera AntarNusa.